Senin, 27 Februari 2012

Kecerdasan dan Kesuksesan



Kecerdasan dan Kesuksesan

Disusun Oleh : 
WARSITO , S.Pd 
Kepala Sekolah SDN 01 Kragan Kecamatan Gondangrejo . Karanganyar


Intelligence Quotient (IQ) yang hampir seratus tahun lalu diperkenalkan oleh William Stern tlah menyita perhatian yan tidak kecil. Bangunan-bangunan utama kecerdasan ditakar dalam skor-skor tertentu. Takaran IQ bahkan menjadi momok bagi siswa tertentu ketika ia harus memilih mau menjadi apa dia kelak. Yang lebih tragis, takaran IQ telah menghilangkan kesempatan berkembang bagi mereka yang memiliki IQ rendah, tetapi dengan kecerdasan lain yang dominan.
Intelligence Quotient (IQ), menurut Daniel Goleman, hanya menyumbang sekitar 5-10 persen bagi kesuksesan hidup. Sisanya adalah kombinasi beragam factor yang salah satunya adalah kecerdasan Emosi (Gramedia, 1996). Intelligence Quotient (IQ), menurut Paul Scoltz, hanya bagian kecil dari pohon kesuksesan dalam semua hal. Scoltz yang menulis buku Adversity Quotient (Gramedia, 2000), menyebut kinerja, bakat dan kemauan, karakter, kesehatan, kecerdasan, faktor genetik, pendidikan, dan keyakinan sebagai kunci-kunci kesuksesan manusia.
Menurut Howard Gardner, ahli pendidikan dengan memperkenalkan teori Multiple Intelligence (MI, atau kecerdasan majemuk), mempertegas bahwa kesuksesan tidak dapat hanya diukur dengan kecerdasan intelektual. Tujuh jenis kecerdasan itu adalah linguistic, matematika, spasial, kinestetis, musik, antar pribadi, dan inter pribadi. Tujuh potensi kecerdasan dengan kadar berbeda-beda ada pada setiap orang. Ketujuh kecerdasan majemuk itu bukan bagian-bagian jyang terpisah dari kecerdasan manusia. semuanya terintegrasi dan saling terkait satu sama lain. Jelasnya setiap orang memiliki tujuh jenis kecerdasan itu. Masalahnya, pendidikan kita cenderung mengoptimalkan satu atau dua kecerdasan saja. Oleh Karena itu, tugas paling berat adalah optimalisasi tujuh kecerdasan itu. Ini artinya, optimalisasi seluruh otak!.
Kesuksesan harus dipandang sebagai pemakaian otak secara utuh (whole brain), Jika selama ini otak belum dipakai secara utuh, namun yang patut disyukuri adalah adanya dukungan ilmiah bahwa otak manusia berperan penting dalam kecerdasan dan kesuksesan. bahkan ahli saraf terkenal dari Universitas Indonesia, Prof. Sidiarto Kusumoputro, mengembangkan pelatihan otak yang didasari pada temuan-temuan spektakuler neurosains tersebut. Pelatihan KISS ME (Kreatifitas, Imajinasi, Sosialisasi, Spiritual, Musik, dan Emosi), Neurobics, dan Brain Gym adalah pelatihan untuk optimalisasi otak.
Hal tersebut diatas membuktikan bahwa kekuatan terbesar manusia bukan terletak pada bagian luar tubuh manusia. kekuatan ada pada diri manusia. problemnya, manusia kurang begitu mengenal dirinya. Socrates benar ketika ia menyatakan bahwa masalah mendasar manusia adalah `pengenalan diri`, “Gnothi Teauton” kata Socrates. ‘kenalilah dirimu!”
Kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi, dan kecerdasn majemuk merupakan kunci-kunci kesuksesan yang betul-betul mengorek hingga ke dasar-dasarnya kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh manusia. Namun, perlu diperhatikan secara jelas bahwa ketiga konsep itu memiliki kelemahan yang sangat signifikan dalam mengaktualkan potensi dasar otak manusia.

Ukuran IQ memiliki kelemahan dala hal pemberian peluang bagi nuansa-nuansa emosional, seperti empati, motivasi diri, pengendalian diri, dan kerja sama social. Sementara itu, kecerdasan majemuk (MI) lebih menonjolkan aspek kognitif, sekalipun musik, olah raga, dan hubungan antar pribadi dipandang sebagai kecerdasan jenis tersendiri. EQ, sebagaimana juga ditemui pada konsep IQ dan MI, sama sekali menepiskan peranan aspek spiritual yang mendorong kesuksesan. Ketulusan, integritas, tanpa pamrih, `ngalap barokah`, rendah hati, dan orientasi kebajikan social adalah beberapa hal penting dari kehidupan spiritual yang memberi kepuasan total bila seseorang sukses. Aspek-aspek spiritual itu tidak hanya membuat seseorang sukses, tetapi juga BAHAGIA. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar